Kamis, 04 Oktober 2012

Sedekah tersembunyi

Sedekah tersembunyi

Sedekah tersembunyi adalah amalan yang paling dekat dengan keikhlasan dibanding dengan cara terang-terangan. Mengenai hal itu, Allah Azza wa Jalla berfirman : Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. (QS.2:271)

Disini diberitakan bahwa bagi orang yang bersedekah kepada orang fakir secara sembunyi-sembunyi lebih baik dibanding menampakkan dan mengumumkannya.

Allah Ta’ala menekankan pengaitan cara tersembunyi dengan mendatangi –khususnya- orang-orang fakir, dan tidak mengatakan, “Sekiranya kalian menyembunyikannya maka itu baik bagi kalian.” Karena diantara pengamalan sedekah ada yang tidak memungkinkan menyembunyikannya, seperti persiapan pasukan perang, membangun jembatan, irigasi sungai, dsb. Sedang mendatangi orang-orang fakir secara diam-diam dan menutup-nutupinya, maka hal itu memiliki berbagai keuntungan, (diantaranya) menutup-nutupinya, tidak membuat malu di hadapan orang, tidak menempatkannya sebagai tontonan, sementara menjadikan orang melihat bahwa (posisi) tangannya sebagai tangan yang dibawah, orang menjadi tahu bahwa dia tidak memiliki sesuatu apapun, dan bersikap zuhud dalam pergaulan dan interaksinya. Dan ini merupakan nilai tambah dalam konteks sikap ihsan terhadapnya melalui amalan sedekah dengan penuh ketulusan, tidak ingin dilihat orang dan tidak mengharap pujian orang. Karenanya sedekah kepada orang fakir secara tersembunyi lebih baik daripada secara terang-terangan di hadapan orang. Sebab itu Nabi memuji  sedekah secara diam-diam, dan memberikan apresiasi terhadap pelakunya. Dan beliau mengabarkan bahwa pelakunya termasuk salah satu dari tujuh orang yang berada dalam naungan ‘arsy Allah pada hari kiamat nanti. Karena ini pula Allah Ta’ala mengaruniakan berbagai kebaikan bagi orang yang bersedekah dan mengabarkan pula bahwa Allah Ta’ala mengampuni segala kesalahannya disebabkan sedekahnya.
Berikut saya kutipkan sebagian kisah-kisah dari buku "Kebeningan Amal Tersembunyi"
[DALIL KEDUDUKAN AMAL YANG DISEMBUNYIKAN]
Diantaranya adalah firman Allah Jalla wa 'Ala (yang artinya):
"Jika kalian menampakkan shadaqah (kalian), maka itu adalah baik sekali.
Dan, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian. Dan, Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan." (Al Baqarah: 271).

Ibnu Katsir berkata dalam menafsiri ayat ini, "Firman Allah, 'Jika kalian menampakkan shadaqah (kalian), maka itu adalah baik sekali', artinya jika kalian menampakkannya, maka itulah harta yang paling baik. Sedangkan firman-Nya, 'Dan, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian'; di sini terkandung dalil bahwa menyembunyikan shadaqah itu lebih baik daripada menampakkannya, karena hal itu lebih jauh dari riya', kecuali jika menampakkannya mendatangkan kemaslahatan yang kuat, seperti agar orang-orang mengikuti jejaknya, sehingga menampakkannya lebih baik daripada menyembunyikannya.

[AMAL YANG DISEMBUNYIKAN DALAM LAPANGAN JIHAD DAN PEPERANGAN]
Maslamah bin Abdul Malik bersama pasukannya mengepung salah satu benteng Romawi. Sementara tidak ada jalan masuk ke dalam benteng kecuali satu pintu. Setelah pengepungan berlalu sekian lama, Maslamah berseru di tengah pasukannya, "Siapa yang berani menerobos pintu, maka jika dia mati saat menerobosnya, maka dia akan mendapatkan surga, insya Allah. Jika dia selamat, maka tanah yang ada di balik pintu itu patut diserahkan kepadanya, lalu dia harus membuka pintu itu agar pasukan Islam dapat masuk ke dalam benteng sebagai pemenang."

Ada seorang prajurit berdiri, yang mukanya ditutup kain, seraya berkata, "Aku akan melakukannya wahai Amir." Selama tiga hari Maslamah bin Abdul Malik bertanya-tanya, "Siapakah orang
yang mengenakan tutup muka? Siapakah yang telah membuka pintu benteng?"

Tak seorang pun yang bangkit. Pada hari ketiga dia berkata, "Aku bersumpah agar orang yang mengenakan tutup muka menemui aku, kapan pun waktunya, siang atau malam." Maka pada tengah malam ada yang mengetuk pintu tendanya. Maslamah bertanya, "Engkaukah orang yang mengenakan tutup muka?" Orang itu menjawab, "Dia meminta tiga syarat sebelum engkau melihatnya."
"Apa itu?" tanya Maslamah.
Engkau tidak boleh mengumumkan namanya kepada orang-orang, engkau tidak boleh memberinya imbalan apa pun dan engkau tidak boleh melihatnya sebagai orang yang memiliki keistimewaan," kata orang itu. Dengan kata lain, dia tidak menginginkan apa-apa.
"Aku terima," kata Maslamah.
Orang itu berkata, "Memang akulah orang yang mengenakan tutup muka itu." Maka Maslamah langsung menghampiri dan memeluknya. Maka di antara doa Maslamah, "Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka. Ya Allah, himpunkan aku bersama orang yang mengenakan tutup muka. Ke pundak orang-orang semacam itulah Allah Azza wa Jalla melimpahkan barakah-Nya.
[AMAL YANG DISEMBUNYIKAN DALAM LAPANGAN IBADAH]

Amr bin Qais Al Mala'y berpuasa selama dua puluh tahun, sementara
keluarganya tidak mengetahuinya. Dia mengambil makan siangnya lalu pergi ke tokonya, lalu dia menshadaqahkan makan siangnya itu dan dia sendiri berpuasa, sementara keluarganya tidak mengetahui hal itu.


[DALAM HAL MERAHASIAKAN AMAL KEBAJIKAN]

Dari Abu Hamzah Ats Tsumaly, bahwa Ali bin Al Husain membawa roti di atas punggungnya pada malam hari lalu mencari orang-orang miskin di kegelapan malam. Dia berkata, "Sesungguhnya shadaqah yang diberikan pada kegelapan malam dapat memadamkan kemurkaan Allah."

Dari Muhammad bin Ishaq, dia berkata, "Penduduk Madinah hidup dengan makanan itu, sementara mereka tidak tahu siapa yang telah memberi makanan itu kepada mereka. Setelah Ali bin Husain meninggal dunia, maka mereka tidak lagi mendapatkan makanan pada malam hari."

Dari Amr bin Tsabit, dia berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang melihat bekas punggungnya, yaitu bekas kantong makanan yang biasa dia panggul untuk diberikan kepada para wanita janda."

Syaibah bin Nu'amah berkata, "Setelah Ali bin Al Husain meninggal dunia, orang-orang mendapatkan seratus keluarga yang dia santuni. Karena itulah dia dianggap orang bakhil. Pasalnya, dia menyalurkan infaq secara rahasia, sementara keluarganya mengira dia menumpuk dirham. Sebagian diantara mereka berkata, "Kami tidak pernah kehilangan shadaqah yang diberikan secara sembunyi-sembunyi hingga Ali meninggal dunia."

Membaca kisah-kisah di dalam buku ini, akan membuat kita terkagum-kagum dengan para salafush saleh yang beramal dengan niat ikhlash menjauhi dari riya'. Amal shaleh yang mereka kerjakan mereka sembunyikan, sampai-sampai orang-orang terdekatnya tidak mengetahuinya. Semua dilakukan untuk Allah semata. Agar menjadi rahasia antara dirinya dengan Allah saja.

Demikian semoga bermanfaat.
Semoga Allah  Ala wa 'Jalla mencintai kita semua. Amiin.

Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.

Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.

Renung-renungkan dan selamat beramal..Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.
'Panggilan pertama adalah* **Azan*','Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat

terdengar. Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak 'cepat marah' akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas.
Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab

panggilan Azan-Nya atau tidak.. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti'.Panggilan yang kedua adalah Panggilan* Umrah/ Haji* Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya 'bergiliran' .

Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalan nya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi, ada yang memang merencanakan dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan 'Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan', sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali.
Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu'. 'Dan panggilan ke-3', lanjut Ibu, 'adalah* KEMATIAN*.Panggilan yang kita jawab dengan amal kita.Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab denganlisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu , manfaatkan waktumu sebaik-baiknya.
.Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah.... ......Insya Allah syurga adalah balasannya.. ...'
Pada hari yang tiada berguna baginya harta benda dan kekayaan,maupun anak-anak,kecuali orang yg datang menghadap kepada Allah swt.dengan hati suci bersih dan jernih. (Q.S 26 Asy-Syuara,88,89)













Penyumbat Saluran Rezeki


Penyumbat Saluran Rezeki

Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya saya gagal terus dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?” Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya ?

Saudaraku, Allah adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.

Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, doa minta hujan isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.

Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.

Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.








TIDAK ADA SATUPUN

TIDAK ADA SATUPUN

Tidak ada satupun hamba-Ku yang ikhlas kuambil harta yg Kuberikan padanya, kecuali Kuganti dengan yang lebih baik. Tidak ada satupun hamba-Ku yang ridha dengan bala yang Kutimpakan padanya, kecuali Kunaikkan derajatnya. Dan tidak satupun hambaKu yang bersyukur, kecuali Kutambah nikmatKu padanya". hadist Qudsi
Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seoranghamba pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya.Apabila shalatnya baik maka dia beruntung dan sukses, dan apabilashalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi. (H.R. Annasa'i dan Attirmidzi).

Barang siapa yang mendorong perbuatan baik, niscaya ia akan memperoleh bagian pahala dari padanya. Barang siapa yang mendorong perbuatan buruk, niscaya ia pun akan memperoleh bagian dosanya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 4 : 85)
Cerdasnya  orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang. Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan. Mari kita kumpulkan bekal terbaik untuk hidup yang sebenar-benarnya.



Berdoalah dengan Suara Lembut

Berdoalah dengan Suara Lembut

Berdoa adalah kebutuhan kita. Jika kita tidak berdoa, justru kita dianggap sombong. Allah swt sangat senang jika hambaNya banyak berdoa dan Dia berjanji mengabulkannya. Berikut ini adalah kiat singkat agar doa kita dikabulkan (maqbul):
1.   Menghadap kiblat
Rasulullah saw datang ke tempat wuquf di Arafah dan beliau menghadap k iblat, lalu terus menerus berdoa hingga tenggelam matahari
2.   Membaca Hamdalah atau Pujian, Istighfar dan Shalawat
Salah seorang sahabat Nabi saw berkata, “Ketika Nabi Muhammad saw duduk di mesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai shalat ia membaca doa, ‘Allaahummaghfirlii warhamnii.’ Maka waktu itu Rasulullah saw pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika engkau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu. Lalu engkau baca shalawat untuk Nabi Muhammad saw dan setelah itu Nabi bersabda, Berdoalah akan dipenuhi.”
3.   Dengan Suara Lembut dan Rasa Takut
“Berserulah (berdoalah) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah swt) memperbaikinya. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 55-56)
4.   Yakin akan Dipenuhi
Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadits berikut ini: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla berfirman, Aku akan mengikuti prasangka hambaKu kepadaKu. Dan aku selalu menyertainya apabila ia berdoa kepadaKu”